Bab Sekian
Bersama detik waktu yang terus berjalan, kini aku pelan-pelan mulai menerima hal-hal menyakitkan yang beberapa hari lalu selalu aku sangkal. Walau masih belajar dan pada waktu-waktu tertentu diri ini masih berusaha berontak, tapi setidaknya kerelaan yang mulai tumbuh memberiku sedikit ruang bernapas.
Tulisan di Quora (Apa saja pelajaran kelam yang kehidupan tunjukkan kepadamu?) yang aku baca malam tadi menjadi tumpuanku agar rasa rela itu kian membesar, agar aku tidak melulu melukai perasaanku dengan prasangka negatif, agar pikiranku kembali sehat, dan agar aku bisa mengambil pelajaran yang kehidupan berusaha tunjukkan untukku.
Sama halnya dengan materi di sekolah, bentuk pelajaran apapun tidak akan bisa diterima bila diri si pembelajar belum merasa rela atau ikhlas. Hal serupa juga berlaku pada pelajaran hidup yang diajarkan oleh kehidupan melalui berbagai hal sebagai bentuk akibat atas apa yang sudah kita lakukan.
Aku jadi teringat kata-kata guru SMA-ku, entah guru yang mana, hanya saja saat SMA salah seorang guru pernah berbicara, "Sekolah adalah tempat untuk belajar agar ilmu bisa diterapkan ke kehidupan, sementara kehidupan akan memberikan pengalaman yang bisa membuat kalian belajar, itulah kenapa ada ungkapan bahwa pengalaman adalah guru terbaik," dan ya, aku mulai memahami ucapan itu.
Sama halnya dengan materi pelajaran yang selalu ada bab per bab yang semakin kompleks, kehidupan pun begitu, ia memiliki bab. Aku hanya bisa ke bab selanjutnya apabila bab sekarang bisa aku selesaikan dengan baik, tentu caranya adalah dengan mempelajari poin-poin penting yang ada dalam bab tersebut, dan aku hanya biar mempelajari bab itu bila aku sudah merasa ikhlas, rela, dan menerima.
Komentar
Posting Komentar