Titik Balik

 Halo diri, mari kita mulai lagi. 

Setelah ratusan malam bergelut dengan emosi, saatnya menata kembali, semua yang rusak, semua yang hancur. Tak apa kamu tak lagi sama, siapapun memiliki masa kelam, berlaku pula bahwa siapapun memiliki masa depan. Ikhlas dan lapanglah, maafkan walau tak terucap permintaan, dengan begitu dirimu bisa berdamai dengan segala yang awalnya tak bisa kamu terima. 

Tidak perlu menjadi tanpa cela, memang sudah sewajarnya titik hitam itu ada, tak mengapa, siapa pun punya. Tak ada luka yang tak kering walau bekas akan selalu ada, suatu hari simpul senyum sederhana akan kembali terajut. Suatu hari kamu akan menyadari, ternyata kamu sanggup menapaki—meski terseok-seok—detik-detik tersakit yang mencapai titik nadir hidupmu. 

Jangan tergesa, lakukan seikhlas yang kamu bisa. “Perlahan, terima … walaupun dengan berdarah-darah,” kata orang baik, agar membaik pula dirimu. 

Jangan khawatir, tidak ada seorang pun benar-benar sebatang kara, ada yang selalu memeluk & menunggumu kembali. 


Ada. 


(Catatan 20 April 2020, 19.28 WIB)


Komentar

Postingan Populer