Menemukanku Kembali
Pernah melenyapkan diri dan menghilang, lalu baru muncul ketika H-1 minggu sidang.
Selama 6 bulan merasa "kehilangan" diri sendiri, selalu sembunyi dan menolak segala bentuk simpati yang datang. Ucapan semangat pun terasa menyengat, sangat. Otakku mengolahnya sebagai sikap mengasihani, aku benci. Pergi saja, kubilang pada mereka yang tentunya hanya dalam hati.
Muncul rasa iri melihat teman seperjuangan berjalan tenang dengan tangga, sedang aku pada tali yang hampir putus—bergelantungan. Tidak tahu diri, padahal tahu betul aku mampu membeli tangga bahkan eskalator. Namun, seperti yang kubilang di mula, "kehilangan diri", dan itu adalah bentuk kehilangan paling mematikan, aku tak mau lagi. Tujuan yang ada di ujung jalan lurus pun terlihat seakan sulit digapai, padahal aku hanya tinggal melangkah dan menikmati pemandangan dengan damai.
Sempat marah dan ingin menyerah. Marah pada diri sendiri? Tidak, tapi pada keadaan, pada keputusan yang tidak bisa diganggu gugat, pada keberpihakan yang memuakkan, dan tentunya itu semua adalah alasan agar aku yang melenyapkan diri memiliki pembenaran. Pengecut memang.
Skripsi melucuti kepercayaan diriku. Padahal di awal pernah aku begitu jumawa meremehkannya hingga akhirnya aku ditunggangi ketidakberdayaan dan memilih tenggelam hilang dari permukaan. Terombang-ambing arus yang semakin menguat, membenturkanku pada segala macam material yang dibawanya serta. Pikiranku semakin tidak bertuan, aku menjadi seonggok cangkang keong yang kosong.
Aku yang pernah merasa adigang dan adiguna atas apa yang kulakukan, tidak memberi celah kepercayaan pada orang lain, merasa diri mampu atas segala hal, seketika menjadi sobekan kertas kecil yang mudah tertiup, tidak berpendirian. Sampai saat seseorang mengulurkan tangan, "Sini, dibantu." Ia mempermalukanku tidak lebih dari 10 kata, tapi mampu membombardir keangkuhan yang selama ini menyengsarakan dan membelengguku dari sifat kemanusiaan.
Dua kata yang membantu mencarikanku tangga untuk kutapaki, dua kata yang membuka mataku bahwa aku hanya cukup berjalan menuju ujung jalan, di sana ada tujuan. Dua kata yang pada akhirnya mengembalikan kewarasanku atas sifat kemanusiaan dan memberiku celah menemukan diri yang sempat hilang.
Dua kata dari ucapan terima kasih sebagai balasan tidak cukup, bukan?
Komentar
Posting Komentar