Irama Tak Bertuan

Kedua empu jari milik seseorang tengah menari dengan lesu di antara batang besi yang berbunyi setiap kali ditekan lalu dijentikkan, menghasilkan nada-nada acak yang tetap saja terdengar lembut. Sejenak ia menghelas napas pendek nan berat, setiap nada yang ia dengar membangkitkan kembali memori yang kini pelan-pelan terkubur. Nada-nada acak itu tak berima, selayaknya satu sudut dalam dirinya yang kini tak lagi bertuan. 

Kembali ia menghela napas, terdengar lebih berat kali ini, ia menyusun ulang harapan tentang hari esok yang masih sama seperti hari-hari kemarin —angin kecil datang dan memainkan ujung kerudungnya, memberi sedikit sejuk di antara cekaman kemarau— walau dalam dirinya yang lain berharap agar musim juga akan secepatnya berganti.


"Hari itu akan datang," gumamnya walau tidak begitu yakin. Entah hari itu apa yang ia maksud, angin kecil yang menyejukkan ataukah musim yang berganti memberi tumpuan, satu yang pasti adalah ia sedang bersusah payah menghibur diri melalui alunan nada tanpa irama, menemani sudut dirinya yang tak lagi bertuan.

Komentar

Postingan Populer