Sabtu
"Nanti, ashar."
"Nanti, ashar."
"Nanti, ashar," ucapnya berkali-kali di saat detak jam masih berputar di angka 3 dini hari.
"Ini di mana? Mau pulang."
"Ini udah di rumah, ma."
"Bukan, ini bukan rumah mama," sangkalnya tak mengenali atap yang kini ia lihat, padahal atap putih itu sepanjang waktu selalu menaunginya berzikir.
***
(1)
Pagi hari ini langit tak secerah kemarin. Aroma pilu samar-samar tercium, mendung mulai nampak walau masih malu-malu. Masa depan pada detik selanjutnya bukanlah kuasa manusia untuk tahu karenanya saat itu aku masih kepayahan berusaha mengangkat selimut basah untuk kutaruh di bawah langit yang tengah sendu.
—
(2)
1 panggilan tak terjawab
Kulihat siapa yang baru saja berusaha menghubungkan panggilan ke ponselku.
"Kenapa, Tam, tadi nelpon?"
"Jadi ga hari ini?"
"Hari ini ... ah, iya. Aku kayaknya ga bisa hari ini, hari lain aja, tapi kalau kalian mau berangkat hari ini, berangkat aja."
Aku lupa, hari ini aku ada janji dengan teman untuk melepas penat, tapi kuenyahkan saja, selain karena lupa, juga karena dompetku lagi serba ditarik ke sana-sini.
—
(3)
Bapak baru saja sampai rumah, tak seperti biasanya, sekarang lebih siang. Bapak pun tidak pergi bekerja, tapi tidak aku permasalahkan karena memang bukan perkara aneh jika anak lebih mengkhawatirkan orang tuanya daripada pekerjaan.
—
Berbagai rentetan kejadian yang awalnya aku tidak tahu apakah kebetulan atau memang sudah rencana Tuhan, pada akhirnya Tuhan beri kejelasan pada 10.35 WIB: sakaratul maut tengah menghampiri seseorang dan kami seakan dicegah mengembara agar tidak menyesal, khususnya bagiku. Tangan kananku mencari-cari urat nadi, memastikan bahwa denyutnya belum hilang meski kian bertambah menit kian melemah. Nama Tuhan tak hentinya digaungkan di antara bibir yang gemetar dan air mata yang terus berderai.
Allāhu akbar, lā ilāha illallāh ....
"Baca Alquran," perintah Uwaku. Aku segera melafalkan firman-firman Allah walau tubuhku semakin bergetar hebat menahan kesedihan.
—
Napas terakhir diembuskan di antara waktu-waktu zuhur. Rumah yang biasa digunakan untuk berzikir, salat, dan membaca Alquran perlahan disesaki pelayat yang tidak jauh dari rumah ini. Beberapa menit kemudian terdengar suara dari speaker masjid, pemberitahuan bahwa seseorang telah menghadap Sang Khalik.
Kullu nafsin dzāāiqotul maūt ....
Kemudian langit menumpahkan air matanya, ikut berderai bersama orang-orang yang kehilangan.
—
Sambil menutup seluruh tubuh Mah-ii dengan kain, bapak menangis lirih, menyabarkan diri dari kesedihan akibat kehilangan seorang ibu.
Tubuh Ma-ii masih terasa sedikit hangat, kuusapi pucuk kepalanya. Rasa menyesal menyeruak ke seluruh urat dalam tubuhku, membuatku gemetar tak karuan. Di antara waktunya yang sempit, sangat jarang aku meluangkan waktu menemaninya.
—
Ashar menjadi waktu terakhir kami melihat tubuh Mah-ii. Di bawah tenda biru yang ditumpahi rintik hujan, tubuh Mah-ii sedikit demi sedikit ditimpa tanah basah, menguburnya di sana sendiri untuk menghadap ilahi, meninggalkan kami, putra-putri, cucu, cicit dalam rasa sedih dan penyesalan.
Komentar
Posting Komentar