Jerat si Ragu

Salah satu yang menjadi kesalahan terbesarku mungkin karena ragu masih terlalu kuat dibanding inginku. Takut untuk memulai; takut berbuat salah; takut semua tidak berjalan seperti yang aku harapkan sebelumnya. Kesalahan itu, keraguan itu, seakan menjadi momok yang terus menggentayangi setiap kali satu langkah hendak ku ambil.

Saat bulan mengganti peran matahari di kala gelap malam menyapa, pikiranku dengan liar berlarian. Sehingga ia sampai di suatu persimpangan  memori di mana ia bisa melihat beberapa teman seusiaku yang bisa lebih dulu menemukan apa yang dimauinya. Sedangkan aku, masih saja tak berkutik. Terbelanggu jerat si ragu. Membiarkan diri dikuasai ketakutan yang jelas-jelas harusnya bisa kulawan dengan gagah. Namun, kenyataannya aku lemah dalam melakukan hal itu.

Maaf, Pak, anak perempuanmu ternyata tidak sekuat dirimu. Perasaanku menjadi sendu, bila mengingat sosok yang telah menghidupiku mulai sejak dalam kandungan hingga kini ku telah berusia 19 tahun. Seharusnya, dengan mengingatnya, hatiku menjadi lebih kokoh, menjadi lebih padat dan kuat, bukannya lembek seperti ini dan berakhir dengan derai air mata.

Lalu kemudian, dengan cepat bayangan wajah seorang wanita melintas di ruang pikiranku. Membuat perasaanku semakin tertikam apabila teringat pukul 03.00 pagi ia sudah bergelut dengan mesin jahitnya menyelesaikan pesanan. Mama, maafkan anakmu ini yang belum bisa seperti yang lain.

Ma, Pak, sedikit pun tak ada kemauanku untuk mengecewakan kalian berdua. Anakmu yang lemah ini; yang penakut ini, tetap, masih menggenggam harapan. Dengan erat. Sedikitnya aku masih memiliki mimpi membahagiakan kalian, Ma, Pak.

Akan tetapi, terlebih dulu tolong terima maafku karena sampai saat ini masih belum seberani teman-temanku untuk menemukan jalan hidup yang kumaui. Masih kubiarkan ragu bersemayam dalam diri. Walau begitu, jiwaku tak berdiam begitu saja. Aku masih giat mencari cara untuk menyingkirkan ketakutan dan keraguan itu.

Mohon maaf bila nanti proses aku membahagiakan kalian terlampau lama. Itu betul-betul bukan mauku. Mauku tetap, kalian bahagia. Dan untuk itu, aku masih terus mencari jalan, agar aku bisa melangkahkan kaki dengan mantap dan berani. Untuk kalian.

Komentar

Postingan Populer